LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN NUTRISI PADA
PENYAKIT HEMATEMESIS MELENA
A. Pengertian
Nutrisi adalah proses pengambilan zat-zat makanan penting (Nancy Nuwer Konstantinides)
Jumlah dari seluruh interaksi dari seluruh organisme dan makanan yang dikonsumsinya (Cristian dan Gregar 1985)
Dengan kata lain, nutrisi adalah apa yang manusia makan dan bagaimana tubuh menggunakannya.
Masyarakat memperoleh makanan atau nutrien esensial untuk pertumbuhan dan pertahanan dari seluruh jaringan tubuh dan menormalkan fungsi dari semua proses tubuh.
Nutrien adalah zat kimia organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanan dan diperoleh untuk penggunaan fungsi tubuh.
Jenis-jenis Nutrien
1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah komposisi yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen dan oksigen.
Karbohidrat dibagi atas :
a) Karbohidrat sederhana (gula) ; bisa berupa monosakarida (molekul tunggal yang terdiri dari glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Juga bisa berupa disakarida (molekul ganda), contoh sukrosa (glukosa + fruktosa), maltosa (glukosa + glukosa), laktosa (glukosa + galaktosa).
b) Karbohidrat kompleks (amilum) adalah polisakarida karena disusun banyak
molekul glukosa.
c) Serat adalah jenis karbohidrat yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, tidak dapat dicerna oleh tubuh dengan sedikit atau tidak menghasilkan kalori tetapi dapat meningkatkan volume feces.
2. Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak terdiri atas gabungan gliserol dengan asam-asam lemak.
Fungsi lemak :
a) Sebagai sumber energi ; merupakan sumber energi yang dipadatkan dengan memberikan 9 kal/gr.
b) Ikut serta membangun jaringan tubuh.
c) Perlindungan.
d) Penyekatan/isolasi, lemak akan mencegah kehilangan panas dari tubuh.
e) Perasaan kenyang, lemak dapat menunda waktu pengosongan lambung dan mencegah timbul rasa lapar kembali segera setelah makan.
f) Vitamin larut dalam lemak.
3. Protein
Protein merupakan konstituen penting pada semua sel, jenis nutrien ini berupa struktur nutrien kompleks yang terdiri dari asam-asam amino. Protein akan dihidrolisis oleh enzim-enzim proteolitik. Untuk melepaskan asam-asam amino yang kemudian akan diserap oleh usus.
Fungsi protein :
a) Protein menggantikan protein yang hilang selama proses metabolisme yang normal dan proses pengausan yang normal.
b) Protein menghasilkan jaringan baru.
c) Protein diperlukan dalam pembuatan protein-protein yang baru dengan fungsi khusus dalam tubuh yaitu enzim, hormon dan haemoglobin.
d) Protein sebagai sumber energi.
4. Vitamin
Vitamin adalah bahan organic yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh dan
berfungsi sebagai katalisator proses metabolisme tubuh.
Ada 2 jenis vitamin :
a) Vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D, E, K.
b) Vitamin larut air yaitu vitamin B dan C (tidak disimpan dalam tubuh jadi harus ada didalam diet setiap harinya).
5. Mineral dan Air
Mineral merupakan unsure esensial bagi fungsi normal sebagian enzim, dan sangat penting dalam pengendalian system cairan tubuh. Mineral merupakan konstituen esensial pada jaringan lunak, cairan dan rangka. Rangka mengandung sebagian besar mineral. Tubuh tidak dapat mensintesis sehingga harus disediakan lewat makanan.
Tiga fungsi mineral :
a) Konstituen tulang dan gigi ; contoh : calsium, magnesium, fosfor.
b) Pembentukan garam-garam yang larut dan mengendalikan komposisi cairan tubuh ; contoh Na, Cl (ekstraseluler), K, Mg, P (intraseluler).
c) Bahan dasar enzim dan protein.
Malnutrisi
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah keadaaan dimana individu yang mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolic. (Wilkinso Judith M. 2007)
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah intake nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolic.( Nanda. 2005-2006 )
Tipe-tipe malnutrisi :
1. Defisiensi Nutrien
Contoh : kurang makan buah dan sayur menyebabkan kekurangan vitamin C yang dapat mengakibatkan perdarahan pada gusi.
2. Marasmus
Kekurangan protein dan kalori sehingga terjadinya pembongkaran lemak tubuh dan otot. Gambaran klinis : atropi otot, menghilangnya lapisan lemak subkutan, kelambatan pertumbuhan, perut buncit, sangat kurus seperti tulang dibungkus kulit.
3. Kwashiorkor
Kekurangan protein karena diet yang kurang protein atau disebabkan karena protein yang hilang secara fisiologis (misalnya keadaan cidera dan infeksi). Ciri-cirinya : lemah, apatis, hati membesar, BB turun, atropi otot, anemia ringan, perubahan pigmentasi pada kulit dan rambut.
B. Etiologi
1. Neurologis/temperatur regulasi
Menurunkan metabolisme dan suhu basal tubuh.
2. Status mental
Apatis, depresi, mudah terangsang, penurunan fungsi kognitif, kesulitan pengambilan keputusan.
3. Sistem imun
Produksi sel darah putih Resiko terhadap penyakit infeksi bila leukosit turun.
4. Muskuloskeletal
Penurunan massa otot, terganggunya kordinasi dan ketangkasan.
5. Kardiovaskuler
Gangguan irama jantung, atropi jantung, pompa jantung turun.
6. Respiratori
Atropi otot pernafasan, pneumonia.
7. Gastrointestinal
Penurunan massa feces, penurunan enzim pencernaan, penurunan proses absorbsi, mempersingkat waktu transit, meningkatkan pertumbuhan bakteri, diare, mengurangi peristaltik.
8. Sistem urinaria
Atropi ginjal, mengubah filtrasi dan keseimbangan cairan dan elektrolit.
9. Sistem hati dan empedu
Mengurangi penyimpanan glukosa, mengurangi produksi glukosa dari asam
amino, mengurangi sintesa protein.
C. Batasan Karakteristik
Tanda dan Gejala :
a) Penampilan umum : lemah, tampak sakit kronis atau akut
b) Rambut : kusam dan kering, rapuh, pigmen berkurang, mudah dicabut, tipis dan kasar
c) Wajah : kulit gelap diatas pipi dan dibawah mata, kulit bebecak, muka bengkak atau pipi kempot
d) Mata : membrane mata pucat, kering
e) Bibir : bengkak dan kasar, lesi disudut mulut
f) Lidah : tampak lembut, bengkak merah daging, sakit, papilla atropi
g) Gigi : karies, kecoklatan, malposisi
h) Gusi : seperti spon, mudah berdarah
i) Klenjar : pembesaran kelenjar tiroid
j) Kulit : kasar, kering, berbecak, bengkak, pucat
D. Patofisiologi dan Pathway
1. Pengertian
Hematemesis merupakan muntah darah berwarna hitam yang berasal dari saluran cerna bagian atas dan melena adalah pengeluaran faeses atau tinja yang berwarna hitam yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas.
Yang dimaksud dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna di atas (proksismal) ligamnetum Treitz, mulai yeyunum proksimal, duedonum, gaster, esofagus.
Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunum dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal
2. Etiologi
a) Kelainan esofagus: varise, esofagitis, keganasan.
b) Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum, keganasan dan lain-lain.
c) Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular coagulation), purpura trombositopenia dan lain-lain.
d) Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain.
e) Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid, alkohol, dan lain-lain
3. Batasan Katarakteristik
a) Muntah dan BAB darah warna hitam
b) Sindrom dispepsia, bila ada riwayat makan obat NSAID, jamu pegal linu, alkohol, yang menimbulkan erosi/ulkus peptikum
c) Keadaan umum pasien: pasien sakit ringan sampai berat dapat disertai gangguan kesadaran (pre koma/koma hepatkum)
d) Dapat terjadi syok hipovolumik.
e) Takikardi
f) Perabaan dingin
g) Kulit puca
Asuhan Keperawatan
Selasa, 20 Maret 2012
ASKEP CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )
CKD (
CHRONIC KIDNEY DISEASE )
A. PENGERTIAN
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya
akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges,
1999; 626)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal
tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan
irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah
nitrogen lain dalam darah). (Brunner
& Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan
perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung
beberapa tahun. (Price, 1992; 812)
Sesuai
dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ),pada
dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ),
namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi
kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan
harapan klien datang/merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan 2.
secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan terminology
CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan
CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang
dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan
istilah CRF.
B. ETIOLOGI
·
Infeksi misalnya
pielonefritis kronik, glomerulonefritis
·
Penyakit vaskuler
hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria
renalis
·
Gangguan jaringan
penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis
sistemik progresif
·
Gangguan kongenital dan
herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus ginjal
·
Penyakit metabolik
misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis
·
Nefropati toksik
misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal
·
Nefropati obstruktif
misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis
netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur
uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.
·
Batu saluran kencing
yang menyebabkan hidrolityasis
C. PATOFISIOLOGI
Pada
waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan
tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).
Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang
meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya
saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari
nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan
haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada
pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila
kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal
yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih
rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi
renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan
ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap
sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin
berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth,
2001 : 1448).
Klasifikasi
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium
:
-
Stadium 1 : penurunan
cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum normal dan penderita
asimptomatik.
-
Stadium 2 :
insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood Urea
Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
-
Stadium 3 : gagal
ginjal stadium akhir atau uremia.
K/DOQI merekomendasikan pembagian
CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG :
-
Stadium 1 : kelainan
ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal (
> 90 ml / menit / 1,73 m2
-
Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria
persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1,73 m2
-
Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59
mL/menit/1,73m2
-
Stadium 4 : kelainan
ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2
-
Stadium5 : kelainan
ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal.
Untuk menilai GFR ( Glomelular
Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan
rumus :
Clearance creatinin ( ml/ menit ) =
( 140-umur ) x berat badan ( kg )
72 x creatini serum
Pada wanita hasil tersebut dikalikan
dengan 0,85
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik antara lain
(Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit
kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung,
depresi
b. Gejala yang lebih lanjut :
anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada
kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada
tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001
: 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari
aktivitas sisyem renin - angiotensin –
aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan
berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh
toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang,
perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak
nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat
penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.
b.
Gannguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk
dengan sputum kental dan riak, suara krekels.
c.
Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang
berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran
gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d.
Gangguan muskuloskeletal
Resiles leg sindrom ( pegal pada
kakinya sehingga selalu digerakan ), burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan
terbakar, terutama ditelapak kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi
otot – otot ekstremitas.
e.
Gangguan Integumen
kulit berwarna pucat akibat anemia
dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik,
kuku tipis dan rapuh.
f.
Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas
dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic
glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
g. Gangguan
cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
biasanya retensi garam dan air
tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis,
hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
h. System
hematologi
anemia yang disebabkan karena
berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum –
sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam
suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan
trombositopeni.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Didalam memberikan
pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain :
1.Pemeriksaan lab.darah
-
hematologi
Hb,
Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit
-
RFT ( renal fungsi test
)
ureum
dan kreatinin
-
LFT (liver fungsi test
)
-
Elektrolit
Klorida,
kalium, kalsium
-
koagulasi studi
PTT,
PTTK
-
BGA
2. Urine
-
urine rutin
-
urin khusus : benda
keton, analisa kristal batu
3. pemeriksaan kardiovaskuler
-
ECG
-
ECO
4. Radidiagnostik
-
USG abdominal
-
CT scan abdominal
-
BNO/IVP, FPA
-
Renogram
-
RPG ( retio pielografi
)
E. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan
keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :
a) Konservatif
- Dilakukan
pemeriksaan lab.darah dan urin
- Observasi
balance cairan
- Observasi
adanya odema
- Batasi
cairan yang masuk
b) Dialysis
- peritoneal
dialysis
biasanya dilakukan pada kasus –
kasus emergency.
Sedangkan dialysis yang bisa
dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut
adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis )
- Hemodialisis
Yaitu dialisis
yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada
awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah
maka dilakukan :
- AV fistule
: menggabungkan vena dan arteri
- Double
lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )
c) Operasi
- Pengambilan
batu
- transplantasi
ginjal
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut
Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada
pasien CKD adalah:
1. Penurunan curah jantung
2. Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit
3. Perubahan nutrisi
4. Perubahan pola nafas
5. Gangguan perfusi jaringan
6. Intoleransi aktivitas
7. kurang pengetahuan tentang tindakan
medis
8. resti terjadinya infeksi
J. INTERVENSI
1. Penurunan curah jantung berhubungan
dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak
terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan
bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat
dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
a.
Auskultasi bunyi
jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi
jantung tidak teratur
b.
Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena
gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi
ginjal)
c.
Selidiki keluhan nyeri
dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan
nyeri
d.
Kaji tingkat aktivitas,
respon terhadap aktivitas
R: Kelelahan dapat menyertai GGK
juga anemia
2. Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang
oleh karena retensi Na dan H2O)
Tujuan:
Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil:
tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
a. Kaji status cairan dengan menimbang
BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital
b. Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan
BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga
tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama
pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk
mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan
input dan output
3. Perubahan nutrisi: kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan:
Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan
BB stabil
Intervensi:
a. Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan
nutrisi
b. Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi
toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan
intervensi
c. Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan
masukan makanan
d. Tingkatkan kunjungan oleh orang
terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan
meningkatkan aspek sosial
e. Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan
stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi
masukan makanan
4. Perubahan pola nafas berhubungan
dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
a.
Auskultasi bunyi nafas,
catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan
sekret
b.
Ajarkan pasien batuk
efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan
memudahkan aliran O2
c.
Atur posisi senyaman
mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
d.
Batasi untuk
beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan
mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
5.
Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat
terjaga dengan kriteria hasil :
-
Mempertahankan kulit
utuh
-
Menunjukan perilaku /
teknik untuk mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan
warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk
atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi
kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau
hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap
udem
R: Jaringan udem lebih cenderung
rusak / robek
d. Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem ,
jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan
kulit
f. Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan
risiko kerusakan kulit
g. Anjurkan pasien menggunakan kompres
lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan
menurunkan risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun
longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung
dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit
6. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas
yang dapat ditoleransi
Intervensi:
a. Pantau pasien untuk melakukan
aktivitas
b. Kaji fektor yang menyebabkan
keletihan
c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil
istirahat
d. Pertahankan status nutrisi yang
adekuat
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis
(hemodialisa) b.d salah interpretasi informasi.
a.
Kaji ulang
penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.
b.
Beri pendidikan
kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan
hemodialisa ).
c.
Libatkan keluarga dalam
memberikan tindakan.
d.
Anjurkan keluarga untuk
memberikan support system.
e.
Evaluasi pasien dan
keluarga setelah diberikan penkes.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall.
(2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan.
Edisi 8. Jakarta : EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Edisi 3. Jakarta : EGC
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan
Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan
Price, Sylvia A dan
Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi
Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit.
Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan
Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3.
Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI
No comments:
Post a Comment